Wabah Covid-19, Ritual di Banyuwangi Tetap Berjalan. Ini Prosedurnya

visfm.com, Banyuwangi – Di masa pandemi corona saat ini, beberapa ritual budaya di sejumlah desa di Banyuwangi tetap di selenggarakan karena merupakan warisan leluhur masyarakat setempat, namun tetap sesuai dengan protap covid-19.

Sebelumnya, telah di gelar ritual Barong Ider Bumi di Desa Kemiren Kecamatan Glagah pada 1 hari setelah Hari Raya Idul Fitri. Ritual turun temurun tersebut digelar dengan sederhana. Dimana, arak arakan barong hanya berputar di sepanjang jalan desa yang di ikuti beberapa orang warga dan panitia serta tokoh adat setempat.

Masing masing dari mereka memakai pakaian Alat Pelindung Diri (APD), yang dilengkapi dengan masker dan penutup wajah serta sarung tangan.

Selanjutnya, akan di gelar ritual Seblang di Desa Olehsari Kecamatan Glagah yang dimulai pada Kamis (28/5/2020) selama 1 minggu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda mengatakan, ritual tersebut tidak bisa ditinggalkan dan telah menjadi warisan nenek moyang masyarakat desa setempat.

“Khusus pelaksanaan ritual seblang, pihak panitia telah menyiapkan sejumlah langkah protocol covid-19 untuk mengantisipasi sebaran virus corona,” ungkap Bramuda.

“Diantaranya adalah para panitia di wajibkan memakai pakaian APD,” imbuhnya.

Saat ini, panitia juga tengah menggarap sejumlah langkah tentang standar operasional prosedur untuk penyelenggaraan event dan atraksi yang bisa mengundang banyak orang. Misalnya bagaimana penataan penontonnya, para pelaku budayanya juga pelaku atraksinya.

Menurut Bramuda, untuk di Desa Olehsari dan Kemiren sudah menemukan titik temu dalam penanganan ini.

“Ritual adat tetap jalan dengan tidak mengundang massa namun protocol kesehatan tetap di jalankan,” ujar Bramuda.

Ditambahkan Bramuda, pemerintah desa Olehsari kini telah menurunkan surat himbauan didalam pembatasan kedatangan massa di lokasi acara ritual Seblang.

“Terdapat 7 point utama dalam surat tersebut, diantaranya tidak boleh ada penonton yang datang ke lokasi kecuali warga setempat dan itupun jumlahnya hanya sekitar 15 an orang. Juga dilarang adanya interaksi dengan pelaku atraksi serta dilarang melakukan pemotretan,” papar Bramuda.

Demikian halnya dengan ritual Puter Kayun di Kelurahan Boyolangu Kecamatan Giri, tetap di laksanakan pada 7 hari setelah lebaran namun sesuai dengan protap covid-19.

Sementara itu, Kepala Desa Olehsari Kecamatan Glagah, Joko Muchlis mengatakan, ritual seblang ini terbilang unik karena di laksanakan selama 1 minggu penuh.

“Kalau di desa lain biasanya hanya di laksanakan 1 hari,” tutur Joko.

Dalam menyikapi hal itu kata Joko, pihaknya sudah berkomunikasi dengan para leluhur hingga mendapatkan titik temu bahwa ritual seblang ini dilaksanakan hanya intinya saja dan tidak ada tarian.

“Ritual ider buminya di tiadakan. Sementara untuk kegiatan lainnnya akan dilaksanakan setelah wabah corona berakhir mengikuti anjuran protocol kesehatan dari pemerintah,” pungkas Joko.

ILEX VIS

ILEX VIS

Read Previous

Lagi, Pasien Positif Covid-19 di Banyuwangi Bertambah

Read Next

Sakit Dideritanya Berat, Pasien 07 Banyuwangi Harus Dirawat di Surabaya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *