Radio VIS FM Banyuwangi
Banyuwangi Mulai Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka
visfm.com, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi mulai melakukan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sejumlah sekolah sejak 18 Januari 2021. Selain memastikan terpenuhinya tiga... Banyuwangi Mulai Uji Coba Pembelajaran Tatap Muka

visfm.com, Banyuwangi – Kabupaten Banyuwangi mulai melakukan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sejumlah sekolah sejak 18 Januari 2021. Selain memastikan terpenuhinya tiga syarat SKB 4 menteri, pelaksanaan hanya diperbolehkan di wilayah paling sedikit terpapar Covid 19. Kapasitas maksimum setiap kelas juga diatur 30 persen.

Juru bicara Satgas Covid 19 Kabupaten Banyuwangi dr. Widji Lestariono mengatakan, uji coba PTM yang dilaksanakan oleh Banyuwangi berpedoman pada Surat Keputusan Bersama (SKB) empat menteri.

Dimana berdasarkan SKB tersebut ada tiga syarat yang harus terpenuhi untuk pelaksanaan PTB. Yakni adanya izin yang dikeluarkan oleh kepala daerah, ijin dari orangtua dan kesiapan sekolah terhadap protokol kesehatan selama penyelenggaraan.

“Ketiga syarat ini ibarat segitiga sama kaki dan wajib terpenuhi semuanya. Jika salah satu saja tidak terpenuhi maka PTM tidak bisa dimulai,” ujar Rio, sapaan akrab Widji Lestariono.

Rio melanjutkan, untuk izin Bupati, pada Jumat lalu (15/1/2021), Bupati Abdullah Azwar Anas sendiri telah mengeluarkan rekomendasi tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di masa pandemi Covid 19.

“Tapi surat izin itu tidak serta merta membolehkan semua sekolah untuk melakukan PTM,” tuturnya.

Rio mengaku, pada surat izin PKM tersebut, Bupati menugaskan Dinas Pendidikan untuk melakukan pemetaan mengenai sekolah mana yang bisa menerapkan PTM. Serta secara tegas memerintahkan Dinas Pendidikan untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan PTM tersebut.

Sementara itu, pelaksana tugas (PLT) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Suratno menjelaskan berdasarkan surat rekomendasi Bupati tersebut, Dispendik menindaklanjutinya dengan mempertimbangkan asas kehati-hatian.

“Dinas Pendidikan menerapkan prinsip PTM yang terbatas, bertahap dan berjenjang,” ungkap Suratno.

Terbatas artinya tidak semua siswa bisa ikut PTM bersama-sama namun dibuat shift. Maksimal hanya 30 persen dari jumlah siswa. Sesuai standar SD 28 orang/kelas, SMP 32 orang/kelas dan SMA 36 orang/kelas.

“Bertahap artinya tidak semua sekolah serentak melakukan PTM, tapi di wilayah tertentu dengan angka infeksi covid 19 rendah,” kata Suratno.

Untuk tingkat SD, basisnya adalah desa/kelurahan. Dimana hanya desa/kelurahan yang kasus positifnya rendah yang boleh melaksanakan PTM. Namun apabila di desa atau kelurahan dan kecamatan seluruh penyelenggara sekolah di wilayahnya tidak siap untuk PTM, maka tidak wajib melaksanakannya.

Suratno menambahkan, berdasar pemetaan, Dispendik mengeluarkan rekomendasi sekolah yang bisa melaksanakan PTM. Tingkat SD ada 77 sekolah negeri/swasta dan SMP ada 43 sekolah negeri/swasta. 

“Kami memang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan rekomendasi,” tutur Suratno.

Contohnya untuk di Kecamatan Giri hanya ada satu desa dengan satu SD yang direkomendasikan pihaknya untuk menyelenggrakan PTM. Di Kecamatan Licin hanya tiga desa dengan tiga SD. Untuk jenjang SMP tidak di semua kecamatan, sebagian besar SMP di wilayah pinggiran yang relatif sedikit kasus positifnya.

Kebijakan PTM ini, kata Suratno, akan dievaluasi pada satu atau dua mingu ke depan. Apakah PTM ini akan dilanjutkan atau tidak atau akan ada penambahan sekolah lagi.

“Untuk jenjang SMA mengikuti kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Jatim, begitu juga untuk sekolah negeri berbasis agama mengikuti Kanwil Kemenag Jatim,” jelas Suratno.

“Tapi pada semua institusi itu, semua sepakat untuk mengutamakan pembatasan dan menekankan pelaksanaan protocol kesehatan covid 19,” pungkasnya.

ILEX VIS

ILEX VIS

Reporter harian Radio VIS FM Banyuwangi.

No comments so far.

Be first to leave comment below.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *